Oleh: Tim Bolodewe Traveler
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Sahabat Bolodewe Traveler,
Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, langkah kami terasa berat ketika memutuskan melakukan perjalanan menuju sebuah tempat yang begitu akrab di hati kami sejak kecil — Wisata Alam Sumber Semen, di Desa Gading, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Tempat yang dulu menjadi surga kecil kami di masa kanak-kanak.
Tempat yang dulu menjadi tawa, menjadi air mata bahagia, menjadi saksi masa di mana hidup terasa begitu sederhana… namun penuh makna.
Foto : Pintu Masuk Wisata Alam Sumber Semen
Menyusuri Jejak Masa Kecil
Masih lekat dalam ingatan — saat itu kami masih bocah SD, dengan sepeda onthel tua dan rantai yang sering lepas di tengah jalan berlumpur. Tapi tak ada keluhan, karena tujuan kami satu: ingin mandi dan bermain di sumber air jernih Sumber Semen, sambil memberi makan ikan atau menatap monyet-monyet bergelantungan di pepohonan rindang.
Waktu itu jalan masih terjal, udara masih murni, dan tawa anak-anak kampung menggema di antara hutan jati yang hijau.
Itulah masa paling bahagia — masa ketika uang tidak penting, dan kebahagiaan begitu mudah didapat dari seember air dingin dan sinar matahari sore.
Foto : Pintu Masuk Wisata Alam Sumber Semen
Menapaki Kenyataan yang Menyesakkan Dada
Namun, perjalanan hari ini berbeda.
Setelah satu jam melintasi jalan berliku menuju lokasi, langkah kami tiba-tiba terhenti.
Gerbang itu… tertutup rapat.
Tidak ada suara tawa, tidak ada anak-anak berlarian.
Tidak ada aroma air segar, hanya keheningan yang menyayat.
Kami saling berpandangan, antara tak percaya dan menolak kenyataan.
Tempat yang dulu hidup kini telah mati dalam diam.
Wisata alam yang dulu tidak pernah sepi, kini seolah dilupakan waktu.
Kami tak kuasa menahan diri, lalu melompat pagar demi sekadar melihat kembali kenangan masa kecil kami.
Namun yang kami temukan… membuat dada ini sesak.
Kolam yang dulu jernih dan berkilau di bawah sinar matahari kini dipenuhi lumut tebal dan daun kering.
Airnya keruh, seolah menampung kesedihan dari masa lalu yang terlupakan.
Pohon-pohon besar yang dulu menaungi kami kini ditumbuhi benalu, ranting-rantingnya kering, dan daun gugur menutupi jalan setapak.
Sesekali terdengar suara jangkrik dan nyamuk hutan — satu-satunya tanda bahwa tempat ini masih hidup, meski dalam sunyi.
Hanya ada beberapa anak kecil yang datang mengambil lumut untuk dijual. Mereka tidak tahu, bahwa tempat yang mereka injak itu dulu adalah saksi tawa ribuan anak yang tumbuh bersama alam.
Air Mata di Ujung Perjalanan
Hari ini, kami tidak menemukan kebahagiaan.
Kami justru menemukan kesedihan yang dalam, karena tempat yang dulu mengajarkan kami arti persahabatan, kesederhanaan, dan kebahagiaan… kini seperti makam bagi kenangan masa kecil kami sendiri.
Kami hanya bisa berdiri lama di tepi kolam yang kotor itu, membiarkan angin hutan membawa kembali potongan kenangan masa lalu.
Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat sesuatu yang kita cintai perlahan dilupakan.
Foto : Jalan masuk ke kolam wisata alam sumber semen
Harapan untuk Sumber Semen
Kami, Tim Bolodewe Traveler, berharap dengan segenap hati agar pemerintah daerah, perangkat desa, dan pihak Perhutani bisa duduk bersama, mencari jalan untuk menghidupkan kembali Sumber Semen.
Bukan hanya sebagai tempat wisata, tapi sebagai warisan kenangan dan kebanggaan masyarakat Rembang,Tuban Blora dan sekitarnya.
Karena setiap tetes air di sumber itu menyimpan cerita.
Cerita anak-anak yang tumbuh bersama alam.
Cerita kebahagiaan sederhana yang kini hanya bisa kita temui dalam ingatan.
Sahabat traveler,
Hidup ini sering membuat kita lupa pada hal-hal kecil yang dulu begitu berarti.
Namun ketika kita kembali, kita sadar — waktu bisa menghapus jejak kaki, tapi tidak pernah bisa menghapus kenangan.
Mari kita rawat kembali tempat-tempat yang pernah membentuk siapa kita hari ini.
Bukan untuk nostalgia semata, tapi untuk generasi yang akan datang — agar mereka tahu bahwa di sebuah desa bernama Gading, pernah ada surga kecil bernama Sumber Semen.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Salam rindu dari kami, Tim Bolodewe Traveler πΏ
"Menelusuri waktu, menghidupkan kenangan."


.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar